Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Saturday, February 9, 2013

Malaikat Tanpa Sayap [2012] - Film Indonesia


"Namun tak kau lihat lihat terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..."

Ada sesuatu tentang permainan takdir . Semenjak bisnis sang Ayah (Surya Saputra) bangkrut, Vino (Adipati Dolken) diharuskan keluar dari kotak rasa nyaman. Hidup pun serba tak mudah sejak saat itu. Mulai ancaman dikeluarkan dari sekolah, keegoisan sang Ibu (Kinaryosih) yang tak mau terus-terusan hidup miskin sampai masa depan Wina (Geccha Qheagaveta), adiknya, yang jika tak segera ditolong, akan memiliki satu kaki seumur hidup.

Ditengah kegalauan itu dan sosok Ayah yang tak bisa diandalkan, seorang Calo organ tubuh (Agus Kuncoro) menawarkan pilihan pada Vino. Pilihan yang dianggapnya mudah jika saja kemudian dia tak bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda). Pertemuan yang membuat Vino gamang pada tekad awal. Sayangnya, kemudian Vino sadar tak ada pilihan untuk lari. Atau untuk sekadar bernapas sejenak.

Firstly, gue sempat antipati sama karya terbaru Rako Prijanto kali ini. Setelah menghadirkan komedi-komedi sampah yang plotnya hasil mix and match film asing. Hampir tak ada harapan bagi gue untuk percaya atau memilih menghamburkan uang demi tontonan tidak bermutu. Sayangnya kali ini gue salah. Karena Malaikat Tanpa Sayap hadir dengan begitu elegan ditengah ritme seragam yang terus menerus meneror bioskop tanpa pencapaian berarti.

Dibalik ranah klise tentang drama kematian, Malaikat Tanpa Sayap mencuat sebagai film yang terbilang memenuhi elemen-elemen drama secara utuh; kedalaman cerita, karakterisasi yang jelas, akting rupawan dari ensemble cast-nya, sajian gambar menarik dan tentu saja unsur mellow yang disajikan apa adanya. Jauh dari kesan lebay, tangisan tidak pada tempatnya dan segala sesuatu yang memaksa kita untuk terenyuh. Karena unsur tersebut disajikan secara natural, tidak mendayu-dayu dan memaksa penonton.

Well, inilah Rako Prijanto yang dulu gue kenal lewat Ada Apa Dengan Cinta? sebagai penata skrip. Yang kemudian berani debut sutradara lewat Ungu Violet dengan hasil lumayan meski plotnya menyedihkan. Dan berani menyajikan kisah cinta unik lewat Merah Itu Cinta. Nggak salah kalo dia bilang “Malaikat Tanpa Sayap film yang gue banget” karena film ini memang sangat Rako. Rako yang dulu. Rako yang selalu menyelipkan quote di film-filmnya. Ditangan Rako film ini memiliki nyawa dan berbeda. Terutama dengan pemilihan pemain yang benar-benar tepat.

Unfortunately, masih ada beberapa hal yang cukup mengganggu. Seperti sempalan twist yang terlihat tak alami dan maksa. Juga kesalahan fatal yang membuat elemen surprise hilang bahkan sejak pertama kali durasi di buka. Oh please…

Sayangnya gue harus maklum. Rako berusaha serius saja sudah lebih dari cukup. Soundtrack ciptaan Dewi Lestari pas banget sama film ini. Dan Maudy Ayunda juga cantik. “Embun gak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alasan buat nggak jatuh cinta sama kamu, Maudy. Dan kalo ngomongin masa depan, kamu harus janji dulu sama aku kalo kamu bakal ngejalaninya sama aku... ”

Wednesday, February 6, 2013

Kalung Jailangkung [2011] - Film Indonesia


Inilah film arahan sutradara kebanggaan kita *tapi bohong* di awal tahun 2011. gue punya kebiasaan kalo mau review film baru pasti nonton di hari pertama pemutarannya di jaringan 21. but i don't know, begitu tau nama sutradara dan bintang-bintangnya, entah kenapa gue mendadak males. Bawaannya mau muntah mulu. Tapi ketika baca postingan diblog temen sebelah kalo film om koya pagayo alias naya kali ini lumayan menghibur karena bergenre horror-komedi, well, rasa curiousity gue jadi tergali. Selucu apakah? Yakin kalo emang lucu?

Dengan niatan mulia ingin membuktikan, berangkatlah gue ke bisokop sendiri. Males ngajakin temen-temen gue yang sibuk mulu kalo diajakin. Dan menyesal kenapa nekat berangkat sendiri karena selain studio dipenuhi penonton, yang datang rata-rata bawa monyetnya (baca pacar ;red). Jelas banget kalo bikin gue iri #semacamcurhat

Dan setelah menyaksikan film kalung jelangkung secara keseluruhan. Gue pengen pingsan dengan berbagai alasan.

1. awal film sebenarnya udah dibuka dengan tolol. Apaan kali tuh acara lomba bengong? Scriptwriternya bisa aja bikin otak geser dikit. Tapi gue senyum. Iya senyum. Pas liat acara nari bareng ketika terdengar lagu dangdut. Well, nggak salah temen gue tuh yang udah review duluan. Tapi….

2. semenjak itu, rasanya gue rugi buat senyum. sumpah, senyum gue mubazir abis. You know what, setelah adegan dangdut tadi seperti biasa nayato mulai membanjiri penonton dengan cerita super dangkal penuh kebodohan binti maksa. Penampakan-penampakan gak ada tujuan, bahkan sebelum inti cerita dimulai: menemukan kalung ketika main jelangkung dikuburan!

3. proses menemukan kalung kok maksa ya, dimana tokoh keke ketakutan setelah liat jelangkungnya goyang dan berniat lari lalu berapa detik kemudian kembali lagi seolah tak terjadi apa-apa dan memungut kalung diatas sebuah nisan (eh, nisan apa tanah ya? Lupa)

4. akting semua pemain standar dan lagi-lagi nayato memakai jasa zaky zimah. Padahal jelas-jelas dia cuman menang ekspresi dengan lawakan super garing. Apa sih yang diharapin dengan akting ngelucu tapi nggak lucu ketika shock ketemu hantu? Dan itu hampir terjadi disetiap scene. yang gue jamin, nanti di film berikutnya, zaky akan kembali dipanggil untuk tampil norak. Nayato rupanya sangat gampang tertebak belakangan ini.

5. akting pemain utamanya geje. jelas, lupakan hal itu. dan semua bertambah sampah dengan akting bintang-bintang muda baru yang wajahnya nggak komersil. Gatau kenapa, ditahun ini pilihan nayato jatuh pada artis berwajah standar. Kemana kabar leylarey lesesne, smitha anjani, arumi bachsin yang sukses dia orbitkan?

6. dialognya diharapkan bisa mengocok perut tapi bagi gue, maksa. Dialog anak SMP super gahol. Dan parahnya beberapa orang di bioskop tertawa, hampir sebagian. Tapi nggak buat gue. Sumpah, gue cuman senyum diawal. Selebihnya mengutuk diri kenapa nekat nonton film ini.

7. seakan belum tahu kebiasaan nayato yang suka main hujan-hujannan, acara terbang melambay-lambay dari kasur, jalan lalu berhenti sebentar dan noleh kanan kiri, penampakan tanpa maksud dan tujuan, gue bersyukur gak ada adegan buka-bukaan seperti tradisi sebelumnya. tapi gue sempet blank karena penataan cahaya  sueper nggak niat. coz banyak scene yang gelap banget. apakah upaya meminimalis dana?

8. dan untuk meminimalis dana lagi, dipakailah lokasi yang sudah pernah digunain meski udah diatur sedemikian rupa tapi tetep terlihat kalo itu lagi-itu lagi. Seperti lokasi penginapan yang dipakai untuk syuting nakalnya anak muda dan hantu perawan jeruk purut. Juga lokasi kampus yang pernah jadi sekolah di beberapa film sebelumnya.

at least, rasanya gue udah males buat lanjutin mereview. Karena gue udah bosen nyaci maki om naya seperti di post-post gue sebelumnya. Dan karena gue lagi baik hati, maka gue kasi rating 1 buat kalung jelangkung. 1 karena sukses bikin gue senyum di awal-awal film. Gue bukan sentimen sama nayato mengingat banyak penonton heboh sendiri dengan joke-joke di kalung jelangkung. Tapi joke yang dia / scriptwriter berikan terlalu bodoh untuk membuat gue tertawa.

Rating: 1/10

http://www.smileycodes.info

Tuesday, February 5, 2013

INTERVIEW WITH NAYATO - Film Indonesia


semua yang tertulis disini hanya fiksi semata. kalo ada nama tempat, nama orang dan kawan-kawan yang sama, ya udah, biasa aja...

Seperti biasa, tiap sore kota malang selalu ditemani dengan hujan yang intensitas kedatangannya antara niat dan nggak niat, deres nggak, rintik-rintik juga nggak. Seperti gue yang nggak yakin ketika akan melangkahkan kaki menuju salah satu Cineplex 21. secara kali ini filmnya om naya yang you know how, nggak tega gue buat ngomongnya, lagi tayang serentak meneror bioskop-bioskop Indonesia. Tapi saat sedang asyik menunggu hujan reda di pojokan mal, tiba-tiba aja ada orang yang berseru manggil nama gue. “Hei, Bee, ngapain lo disitu?” Otomatis gue menoleh. Dan syok!

Hei, siapa tuh om-om? Sok akrab banget sih sama gue. Udah tau juga gue lagi nunggu ujan reda, eh, masih ditanyain lagi ngapain. Dasar nggak kreatif. Emang gue kelihatan lagi mau cuci piring disini?

Dan parahnya, om-om itu mendekat menghampiri gue. Oh no! dia pasti om-om hidung belang penyuka sesama jenis. TIDAK! Gue harus kabur. But, syit! Dia udah mencengkeram lengan gue. Anyway, nomor telepon darurat polisi berapa ya?

    “apa kabar?” Tanya om itu sok akrab sambil memamerkan barisan giginya yang kuning.
    “s-sorry, who’s you?” gue sok inggris. Hell, siapa tau dikira bule nyasar meski muka nggak memadai. Meskipun iya, nggak mungkin banget secara dia udah tau nama gue pas manggil tadi.
    “lo lupa sama gue?” gue mengernyitkan kening mendengar pertanyaan si om-om. “ya, pantas sih. Secara gue orangnya jarang eksis. Gue nayato, bee. Nayato fio nuala.” Sambungnya meyakinkan.
    NAYATO? Kayak nama tukang bubur yang tiap hari lewat di depan rumah.
    “masih nggak inget?” tanyanya. Gue menggeleng mantap. “gue kasih klu lagi deh. Gue tuh orang yang selalu menyutradarai film-film sampah. Yang sebelas-dua belas sama KK Dheraj itu.” Ujarnya bangga.
    “oh, elo om. Huaheuhua.. gue kirain tadi tukang kredit panci langganan emak gue. Padahal jelas-jelas muka lo kayak tukang jualan sayur keliling.” Kata gue akhirnya tanpa berniat menyindir.
    “yup, here I am. So, daripada lo bengong sendirian, ayo gabung sama gue. Gue traktir deh.”
    Mata gue berbinar denger kata traktir. “oke, om, let’s go!”

(ceritanya gue fast forward ke durasi setengah jam kemudian dimana pesenan gue berupa 1 chicken teriyaki, banana spilt, french fries dan bubble tea terpajang dengan cantik di meja. nggak papa kan sekali-kali nggak tau diri? hehehe...)

    “ada angin apa om kok bisa nyasar di malang dan hei, dari mana tau nama gue?” Tanya gue mulai interogasi.
    “lagi liburan aja bee. Bosen sama rutinitas gue di Jakarta. Dan gue tau nama lo pas gak sengaja buka blog lo.” Jelasnya sambil sibuk merokok dan utak-atik bb.
    “wah, bangga deh blog gue dibaca oleh orang macam om naya yang you know how, film-filmnya selalu nggak jelas.”
    “habis mau gimana lagi bee. Gue bisanya cuman kayak gitu dan dari situlah gue dapet makan. So, maklumin aja deh.”
    “maunya sih gue maklumin om naya, tapi pelis banget deh, adain kek peningkatan. Masa nyutradarain film dari ide cerita produser aji mumpung. Nggak mau kalah saing sama KKD yang dua film nya berjudul rintihan kuntilanak perawan sama pelukan janda hantu gerondong mengalami peningkatan dari segi gambar. Kan biasanya kayak film jaman dahulu kala sesuai cara kerja otak kiri KKD yang emang out of date banget, gak bisa bedain mana yang baik dan mana yang salah.”

    “masa sih?”
    “iye, sumpah deh guweh.” Jawab gue sambil bergaya super lebe a la fitrop.
    Karena nggak ada respon negatif dari om naya yang sibuk bbm-an, gue melancarkan pertanyaan lagi. Yang mungkin bisa lebih berbobot. “betewe, film perdana om di tahun 2011 kan uda tayang dan buset, langsung horror-komedi, bo. Yang main si zaky, lagi. Ada angin apa om deket sama dia. Apa karena udah gak ada arumi om jadi berpaling ke sesama jenis.”
    “ya gitu deh.” Hello, jawaban apa tuh, ya gitu deh.
    “wah, pengakuan terlarang nih om.”
    “iya nih, kayaknya gue mau bikin versi layar lebar dari kisah hidup gue.”
    “well, pasti tambah super geje ya filmnya. kenyataanya aja udah annoying apalagi versi filmnya.”
    “so pasti hohoho..” lho, kok malah ketawa ya ni orang?  padahal jelas-jelas nggak ada yang lucu.
   “kalo bisa ya om, bikin film tuh yang bagus gitu. Masa mesti nunggu om naya sama KKD mati dulu, Indonesia baru bisa bebas dari film-film sampah.”
“gatau deh bee. Gue sebenarnya juga pengen mati. Gue bosen bee tiap hari dicaci maki. Padahal itu bukan mau gue. Film film gue kayak gitu tuh karena tuntutan keadaan. Lo tau kenapa gue gak pernah nampakin diri ketika press conference film-film gue? Itu karena gue malu bee. Itupula kenapa gue selalu make nama samaran.” curhat om naya.

    Gue speechless.
   TINT! TINT!
   Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Kita berdua menoleh mencari asal suara. Dan tertangkaplah penampakan sosok berjambang dari dalam mobil butut berwarna ijo royo-royo.
    “hei, you come on” seru orang berjambang itu kearah om naya.
    “hei, raj,” balas om naya.
    “siapa tuh om?” Tanya gue curious.
    “KKD, kita ada janji mau rapat bikin film bareng.” Jawab om naya.
    “WHAT?!?”
    “iya, kenapa bee?”
    “pelis banget. Don’t do that.”
    “relax bee. Pasti filmnya box office kok.”
    “no, berasa nitemare om!”
    “yes!”
    “no..”
    “YESS!!!”
    GUBRAAKKKK!!!
   Gue jatuh dari atas tempat tidur dan menyadari kalau semua ternyata cuman mimpi… syukur deh. kirain beneran. kiamat bisa maju setahun kalo kayak gini.
    Btw, pertanda apakah mimpi barusan ya?

catatan kecil: nayato juga manusia, guys. punya rasa, punya hati. jangan samakan dengan pisau belati.. #nyanyi

Sunday, January 27, 2013

Love Story [2011] - Film Indonesia


REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER!

"Cinta tidak membuat kegelapan justru cinta itu menerangi,cinta tidak akan membuat aku menyerah, justru aku akan memperjuangkannya"

Dari awal sebenarnya udah banyak yang bilang kalo film ini bakalan lebe abis. Tapi entah kenapa gue masih berniat menontonnya di hari pertama pemutaran serentak di jaringan 21. gue nggak tertarik sama posternya yang standar dan terlalu bright, gue juga gak suka soundtracknya yang lagi-lagi dibawain melly. Seolah-olah nggak ada penyanyi lain. Yang mana dititik ini gue mulai jenuh sama melly yang suka maksa kalo bikin lirik campur antara bahasa Indonesia sama bahasa inggris.

Opening film bercerita tentang sebuah dongeng rakyat yang dibacakan secara bergantian oleh henidar amroe dan maudy koesnaedy pada acha dan irwansyah kecil. dongeng tentang kisah cinta joko angin-angin kepada dewi bulan yang akhirnya berubah jadi kutukan. dimana terdapat sebuah pantangan yang menyebutkan jika ada sepasang kekasih tinggal berseberangan desa dan dipisahkan oleh sungai, dilarang saling jatuh cinta. dan dipercayai barang siapa yang berani melanggar akan tertimpa becana. Bukan hanya malapetaka bagi yang melanggar, tapi juga orang lain disekitarnya.

Scene lalu berganti ke adegan lari-larian dua bocah SD. Disini sebenarnya sudah mulai tampak gejala-gejala error di film ini. Lihat aja deh, saat lari si bocah cewek sempat berteriak: “galih, ayo cepat, nanti telat datang ke sekolah.”. tapi anehnya, tiba-tiba si cewek diam ditempat sambil melihat kagum ke arah bis seolah bis itu adalah mobil yang diisi artis kek dewi perssik. Coba deh, maksudnya apaan coba? Oke, discene ketika bocah-bocah ini mulai tumbuh dewasa, bis ini nanti akan jadi bagian cerita. Tapi apa perlu penyampaiannya sebodoh itu? lalu kenapa pula mimik muka guru SD si  bocah cewek berubah gusar/takut ketika tahu kalo cita-cita acha kecil adalah menjadi guru. tanya kenapa?

Film pun berjalan. Terus… terus… sampai gue mulai ngantuk dan pengen cepet-cepet keluar studio 2 sebelum bener-bener ketiduran. Sumpah, padahal durasinya cuman satu setengah jam. Tapi sejam pertama cerita berjalan flat tanpa emosi, membosankan dan dipenuhi dialog-dialog puitis super kancrut yang kayaknya gak bakalan diucapin remaja-remaja jaman sekarang kayak gue. Selain terkesan E.Y.D, bahasa yang digunain terlalu berlebihan dan hiperbola stadium akhir. Berani jamin, nggak bakalan ada cowok yang mau-maunya ngerayu cewek pake omongan semacam ini:

“hei, ..... (titik-titik ini boleh diisi pake nama cewek lo. Entah dia Sin dari nama Sinta atau Tin dari nama Tini), aku berjanji akan menjaga cinta kita yang seperti bola bekel ini sampai aku dan kamu terkubur dalam tanah penuh kotoran sapi. Atau sampai sang surya tak lagi bersinar karena udah sore jadinya dia tenggelam, atau apapunlah.. “ gue nggak jadi nerusin karena kehabisan ide. Hehehe…

Dan pasti si cewek bakalan bilang:

“ngemeng apaan she lo nyet, lebay banget deh jadi cowok!!”

JREBB!! Kata-kata yang begitu menusuk hati cowok yang paling dalam dan paling mentok.

Jadi gue maklum kalo dari awal sampe akhir film, bahkan saat si irwansyah sekarat, sempet-sempetnya ceramah soal hal menye-menye didunia dengan logat bicaranya yang gag asyik di denger kuping. Gue sampe ngakak pas bagian-bagian dimana gombalisme picisan cinta mulai bertebaran. seperti gue yang menebarkan kegombalan-kegombalan itu di review kali ini. Kok bisa sih scriptwriternya make kata-kata kek gitu? Berasa lagi liat film tahun kapan gitu.

"biarpun raga kita tak bisa bersatu tapi jiwa kita akan selalu menyatu. Buat apa ada raga jika tanpa jiwa, buat apa ada jiwa jika tanpa cinta"

Eh, tapi ada yang paling parah, coba bagi lo yang udah liat, dengerin apa yang diomongin henidar amroe ketika melarang acha yang sedang sekarat di rumah sakit. Dia bilang: “pliss, jangan pergi ranti.” lho, kok pliss? Padahal karakter si miss amroe kan jadi nenek-nenek kolot. Gimana bisa tau kata pliss? Oh, iya gue lupa kalo ada kamus di kamar acha yang penuh buku-buku pelajaran.

Selain kelebayan soal kosa kata, cerita film ini juga terlalu lebay dalam menceritakan sesuatu. Nggak ada yang salah sama niat irwansyah membangun sekolah-sekolahan di tengah sawah. Tapi masa iya, katanya sudah punya cukup uang, tapi bikin rumah dan kincir angin sendirian aja. Apa kabar tuh tukang-tukang bangunan? Parahnya, irwansyah ngerjain bangunan sekolah ketika lagi sakit parah. Dan selesai mengerjakan dalam waktu beberapa hari selama acha masuk rumah sakit. Hahaha, logika nya nggak dipake tuh…

"Apalah arti raga tanpa jiwa. Dan apalah arti jiwa jika di dalamnya tidak ada cinta"

Oke, stop ngomongin soal cerita yang nggak bisa diharapkan. Berganti ngomongin om hanny yang sukses bikin gue kagum sama cara dia ngehandle sudut pandang sehingga apa yang terlihat di layar tuh enak banget di tonton. Suasana hijau persawahan, sungai dan panorama pedesaan berhasil terekam dalam lanskap yang indah dan megah.

"Hanya satu yg aku yakini, cinta itu tidak mematikan, justru menghidupkan"

Dari segi akting semua serba enak dipandang. Especially acha and of course, aktor terbaik FFI 2010, reza rahadian yang memikat banget aktingnya meski tanpa dialog dan hanya teriak-teriak.

Love story, menjadi penutup trilogi cinta acha-irwansyah yang megah dan terbaik dari berbagai segi kecuali cerita yang kancut. Tapi gue lebih suka segmen heart. Dimana ceritanya lebih menyentuh, apalagi eksekusinya yang happy ending meski cara penyutradaraan om hanny kelihatan nggak asyik disini. dan mencoba melupakan kalo love is cinta pernah ada. Bagi elo yang udah liat dua seri sebelumnya, pasti tau gimana kita harus bersikap mengetahui akhir ceritanya.

Mungkin para cewek ato anak SMP yang nonton bakalan nangis tau endingnya. Tapi sori aja buat gue, endingnya terlalu biasa. Bahkan gue ketawa lho. Serius. Masa iya si irwansyah sempet-sempetnya pidato sepanjang sabang sampai merauke sebelum mati? Hahaha..

Rating 4.5/10
http://www.smileycodes.info

Saturday, January 26, 2013

Pencarian Terakhir [2008] - Film Indonesia


Biasanya, film Indonesia yang bagus dan bermutu—bukan karena box office, selalu rilis dalam versi home video lumayan lama. Gak tau deh alasannya. Entah disengaja atau emang ada something apaan.

Di postingan tahun lalu gue sempet bikin list film yang gak beredar dalam bentuk kepingan disc. Tapi gataunya muncul juga meski memakan waktu lama. Bahkan sempet ditafsir gak bakalan muncul. Beberapa film yang bermutu itu biasanya gak sempet gue tonton dibioskop. Contohnya kek heart-break.com dan ruma maida yang akhirnya bisa juga gue tonton dan review.

Hari kamis kemaren (20/01/2011), setelah dibikin penasaran karena banyak yang bilang bagus, keren, beda dan kawan-kawan, gue seneng banget ketika nemu info kalo film perdana arahan affandi abdul rahman keluaran tahun 2008 berjudul pencarian terakhir ini rilis juga dalam bentuk DVD. Gak pake lama, gue langsung nyewa di rental terdekat. Ekspetasi gue sebelum nonton tuh campur-campur. Apa iya ada film horror seoke komentar orang-orang yang udah lihat itu? Ya, you know lah kualitas film horror keluaran Indonesia dewasa ini. Kalo nggak nyampah ya makin nyampah. Jadi tanpa harapan lebih, gue tontonlah film ini.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Gancar (Tesadesrada Ryza), adik Sita (Richa Novisa) ke gunung sarangan bersama teman-temannya. Meski sempet kuatir, Sita pun mengijinkan adiknya berangkat. Dan keputusan itu baru dia sesali setelah 5 hari gak ada kabar dari Gancar. Padahal Gancar sudah berjanji akan pulang di hari ke empat. Berbekal rasa takut kehilangan seorang adik, Sita bersama teman-temannya, Oji (Alex Abbad) dan Bagus (Yama Carlos) yang mengajak serta Tito (Lukman Sardi), mantan pacar Sita yang dulu juga pernah mengalami keganasan gunung sarangan, berangkat melakukan pencarian. Tentunya dengan bantuan tim SAR setempat, mereka berempat berjibaku menantang medan gunung sarangan yang berat dan menyimpan aura mistis. Apakah Sita berhasil menemukan adiknya kembali?

Dari segi plot tampak seperti skrip drama yang biasanya kita temui di film-film Hollywood. Tapi rupanya penulis skenario menambah unsur mistis khas Indonesia. Bukan, bukan hehantuan narsis kek di film-film horror seksi yang menjamur. Jadi jangan harap ada penampakan pocong dan saingan beratnya, kuntilanak. Atau hantu wanita dengan rambut panjang yang jalannya merangkak a la film jepang. Horror disini lebih ke psikologis tokoh-tokohnya. Gue bilang sih lebih ke thriller psikologis yang cenderung memainkan kedetailan emosi.

Sebagai film layar lebar pertama, affandi abdul rahman terlihat meyakinkan bahwa dirinya adalah sutradara berbakat yang nantinya semoga saja tidak terjebak pakem sutradara Indonesia kebanyakan. dimana lebih mentingin uang doang dengan hasil film biasa atau malah gatot alias gagal total. Cara nge-shoot angle-angle terlihat tegas. Dia juga bisa mengarahkan bintang-bintang difilmnya untuk tampil secara baik dan benar meski akting mereka nggak all out.

Banyak yang memuji akting Richa Novisa. Padahal akting dia biasa aja disini. Emosinya tuh nggak dapet. Masih bagusan akting dia di film heart-break.com yang juga didirect oleh affandi. Meski cuman dapet peran pendukung, gue suka sama karakternya yang judes. Di pencarian terakhir, Richa keliahatan kayak bingung mau ngapain—walau di film ceritanya emang lagi bingung. Tapi disini yang terlihat dia bukan bingung karena adik yang ilang. Tapi bingung dalam menjaga aktingnya yang kelewat berhati-hati.

Jajaran pemain lainnya juga gitu. Seperti alex abbad yang berperan super santai padahal masalah lagi genting, Yama Carlos yang nggak tau dia disini lagi akting atau ngapain, Lukman sardi yang, yah, gue akui dia emang pintar berakting. Tapi setelah disuguhi film-film yang pemainnya dia lagi-dia lagi. Gue jadi lumayan eneg. Lukman bermain lebih baik dari semua. Tapi gue bosen lihat mukanya.

Belum lagi terlalu banyak karakter yang ditampilkan, membuat gue jadi ribet sendiri ngelihatnya. Dari figuran yang tampil prima sampai pemeran pendukung yang annoying dan maksa. Seperti akting teman Gancar yang bernama Ranti. Sumpah, nggak banget aktingnya.

Gue suka sama lokasinya yang ijo royo-royo. Tapi gue rada keganggu sama set yang dipake pas adegan jatuh-jatuh di pinggir jurang. Kok kelihatan banget ya kalo syutingnya dibikin tidur dan diambil dari samping? Hahaha…

Gue nggak suka sama pengeksekusian akhir yang nggak jelas. Dimana nggak diceritakan sosok-sosok gaib yang bertebaran itu siapa-siapa. Atau memang sengaja dibikin gitu kali ya? Namanya juga rahasia alam. Gue juga nggak suka sama ending yang terkesan buru-buru. Dimana diawal kayaknya lama banget dan bikin gue nanya kapan mereka ketemu. Bahkan sempet gue berasumsi kalo tokoh-tokoh yang hilang benernya udah mati. Kayak satu segmen cerita di film horror Thailand 4Bia berjudul “In The Middle”.

Overall, pencarian terakhir terlalu biasa untuk ukuran film lama yang versi home videonya baru rilis.

Rating 5.5/10

http://www.smileycodes.info

Tuesday, January 22, 2013

Cewek Gokil [2011] - Film Indonesia


to be honest, awalnya gue udah ilfil duluan liat akting velove vexia sejak dia membintangi sinetron perdananya bareng raffi ahmad dimana jalan cerita tu sinetron ngejiplak abis film berjudul she's the man yang kemudian bertransformasi jadi olivia (dan parahnya, nama salah satu karakter cewek di film aslinya juga olivia. what the?! ngejiplak kok tolol kek gitu. nggak ada kreatif-kreatifnya). jadinya gue nonton film ini tanpa ekspetasi apapun. berharap ada bahan buat dicaci oke juga kayaknya. tapi setelah lihat keseluruhan film arahan rizal mantovani ini, gue langsung melongo. awesome, right. seenggaknya dari beberapa film yang membuka awal tahun 2011.

bercerita tentang keke, cewek smart berusia 19 tahun yang ambisius. lantaran trauma gara-gara satu kejadian pas nganterin jahitan nyokabnya hingga dikejar-kejar orang sekampung, keke jadi punya cita-cita sederhana binti mulia yaitu membelikan mobil untuk ibunya. biar dia nggak ribet pas disuruh-suruh gitu maksudnya. nah, karena udah tau semua sia-sia kalo dia cuman diem aja dan berharap ada hujan uang turun dari langit, keke pun berjibaku demi mewujudkan mimpinya. dari memperbanyak bacot sana-sini supaya jumlah downline MLM nya bertambah, nyari anak-anak SD yang mau les privat bahasa inggris di rumahnya, jual barang-barang kesayangan, ikutan kasting sinetron dan kerja jadi sales promotion girl sebuah apartemen demi sebuah mini cooper lucu yang bayarnya bisa diangsur. lalu, setelah semua yang dia lakuin tadi, apakah mini cooper itu bisa menjadi miliknya?

menurut gue, film yang baik itu adalah film yang bisa menghibur dan bikin penonton terjaga dari awal sampe akhir plus setidaknya mendapatkan bonus sebuah hikmah yang bisa dipetik selain hiburan semata setelah meninggalkan bioskop. dan cewek gokil ini, memberikan semua yang udah gue sebutin tadi. serius.

dari segi pemain gue beri standing applause buat debut velove vexia di layar lebar. dia emang gokil dan total dalam menjiwai karakter keke sampe gue nekat berasumsi sendiri kalo di luar film dia emang kek gitu. hahaha... sorry kalo sebelumnya gue sempet nge-judge elo yang iya-iya, sista. trus jajaran pemain lain juga gak kalah okenya dan bermain pas sesuai porsi kek tokoh dino yang diperanin syailendra soepomo. dimana dia jadi love interestnya keke di film ini. belum lagi endhita yang berperan jadi fitri, kakak keke yang kerja sebagai wanita penghibur.

nyawa film itu kan dari skenario. kalo skenarionya bagus, minimal film itu juga bakalan keren. dan gue acungin jempol buat scriptwriter film ini, ve handojo, yang keren banget merangkai adegan demi adegan. film ini tuh ngalir banget dan seru buat diikuti. malah ada scene yang bener-bener bikin gue sakit perut saking over gokilnya. sayang aja di tengah-tengah cerita ada intensitas yang nggak terjaga dan melemah, tapi tetep enak buat diikuti.

satu jempol lagi buat sutradaranya, rizal mantovani. dia sukses mengemas script dari ve handojo ke dalam bentuk visual dengan baik dan enak dilihat. dimana dia bisa mengarahkan penonton untuk tertawa bukan dari adegan slapstik murahan, tapi lucu karena situasinya emang kayak gitu. tapi sempet mata gue ble'e liat tata cahaya yang nggak pas sama sikon. bagian itu terlihat jelas pas scene dimana keke mikirin sesuatu di angkot setelah dimarahin bosnya gara-gara telat nangani calon pembeli apartemen. masa iya gitu, wajah keke putih banget kena sinar padahal ceritanya lagi sore hari. ditambah gambar yang memperlihatkan lalu lintas kota di tengah-tengah gedung dan diambil dari kejauhan dengan resolusi rendah  yang parahnya diulang berkali-kali. cukup mengganggu aja bagi gue.

gue suka sama tata musiknya. pemilihan lagu yang dijadiin soundtrack tuh enak-enak dan ngepas sama adegan. mungkin karena dari lagu-lagu yang udah akrab ditelinga kali ya, jadi feel yang pengen disampein bisa dapet banget. contoh kek scene di dalam taksi, dimana keke memandangi wajah ibunya, lalu terdengar lagu surga ditelapak kakimu dari gita gutawa mengalun, sumpah bikin mata gue langsung berkaca-kaca.

kayaknya gue kelebihan dosis muji film ini. padahal masih ada adegan gak jelas yang lumayan annoying selain hal teknis yang udah gue sebutin diatas. pertama scene ketika dino mengantar pulang keke setelah belajar nyetir. masa iya, baru kenal si keke udah main nyuruh cium dino gitu aja? apa nggak terkesan murahan. dua, kemarahan keke yang nggak beralasan ketika dino ingin menasehati kalo keke nggak pantes pake rok mini di mana hal itu berbeda sama prinsip yang dipegang ceweknya selama ini. tiga, proses cinta-cintaan antara keke dan dino yang super kilat. logikanya sih, ada juga love at the first sight atau apapunlah sejenisnya. tapi masa iya nggak bisa didetailin lagi konsepnya. masa tiba-tiba jadian gitu aja.

terakhir soal kata-kata yang dipake juga aneh dan out of date seperti "capcay fuyunghai capek deh". tahun kapan tuh istilah "capek deh" muncul? dan langsung maklum karena baru gue ketahui kalo film ini sebenarnya udah diproduksi tahun 2008 silam. tapi mesti rela rilis tiga tahun kemudian dengan alasan menyesuaikan selera pasar.

overall, cewek gokil adalah film yang sangat fun ditonton sekeluarga, very entertaining dan sangat remaja seperti sosok keke yang digambarkan lewat emosi dan kelakuan yang sangat teenager tanpa ada tambahan embel-embel budaya laknat imbas westernisasi. sarat moral tanpa kesan menggurui. dan poin terpenting, nggak ada adegan mesum-mesum nggak jelas yang membanjiri perfilman kita belakangan ini. semua sangat indonesia. nggak rela waktu filmnya mesti berakhir...

rating 6/10

http://www.smileycodes.info

Monday, January 21, 2013

My Last Love [2012] - Film Indonesia


Menurut penelitian gue selama dua hari empat malam, produk terbaru MD Pictures ini adalah proyek cari untung semata dari Punjabi Bersaudara. Iya, setelah mengalami stres dini tingkat Afganistan akibat mega proyek mereka bertajuk Di Bawah Lindungan Ka’bah gagal total di pasaran, maka dibuatlah film dengan budget pas-pasan yang kemungkinan bisa mendatangkan banyak penonton. Maka dipilihlah sutradara paling produktif se-Indonesia (MURI mana MURI?!?) untuk mempermudah proses agar rumah produksi tersebut tidak perlu gulung tikar.

Nggak susah memang untuk berspekulasi seperti ini. Karena gue yakin banget Punjabi Bersaudara tau bagaimana reputasi Om Naya selama ini. Bagaimana sepak terjang sutradara yang sering diperbincangkan (keburukannya) oleh banyak orang tersebut. So nggak usah heran jika hasil akhir film inipun layak sekali masuk tong sampah seperti biasa. Yang perlu diherankan adalah: kenapa Punjabi Bersaudara nekat memilih Nayato? Oke, gue ulang lagi biar kesan dramatisnya lebih terasa: KENAPA PUNJABI BERSAUDARA NEKAT MEMILIH NAYATO? Apa karena saking hopeless nya? Oh, co cuit #abaikan

My Last Love diadaptasi dari novel (yang kata posternya) best seller buah karya Agnes Davonar. Tapi menurut gue nggak perlu juga memberi embel-embel adaptasi kalo hasil akhirnya malah lebih mirip film non adaptasi hasil mix and match dedramaan galau macam Pupus, Kangen, Cinta Pertama dan 18+. Gimana nggak aneh kalau selain nama karakter dan benang merah yang bias, My Last Love sukses dirombak sana-sini dengan seenaknya. Ckck..

Seperti kebiasaan Nayato yang nggak perlu memakai naskah, My Last Love juga bernasib serupa. Nggak aneh kalo dialognya sangat annoying biadab. Kayak gini contoh yang gue visualisasiin pake gaya skrip film:

INT. LORONG RUMAH SAKIT – MALAM

IBU ANGEL
Bagaimana keadaan Angel?

NADYA
Angel kecelakaan Bu...

Nah, lho. Si Ibu nanya apa, jawabnya apa?

Yang jadi pertanyaan gue: Ery Sofid yang sering banget jadi penulis naskah di film Nayato beneran kerja atau cuma dicomot nama doang sih kayak kasus Chiska Doppert di film Missing? Feeling gue, kalopun ada gosip naskah ditulis on the spot, masa iya sebegini dangkal dan tidak bermutunya dialog yang ada. Atau jangan-jangan, Nayato sebenarnya udah menggunakan sistim yang dipopulerkan oleh Damien Dematra dengan memegang berbagai posisi di film mereka? Iya, jadi sebenernya Nayato jugalah yang menulis naskah di setiap filmnya. Tapi karena nggak bakat dan hasilnya jelek, maka dipakai nama orang lain agar pencitraan dirinya tak semakin buruk.

Eh, ini kok gue jadi gosipin orang sih? Huehuehue.... habis filmnya nggak bermutu sih. Jadi bingung mau komen apaan. Mau komen wajah Donita yang cantik gue udah males. Setelah putus dengan Donita dan sadar bahwa aktingnya jelek di film Kehormatan Di Balik Kerudung, gue udah nggak mau bahas Donita lagi. Meski sebenarnya kecantikan Donita terpancar banget di film ini berkat cara-cara ajaib Nayato meng-capture muka eksotis dara pemilik nama asli Noni Anisah tersebut.

Selain Donita, ensemble cast lain juga nggak ada beda. Mereka semua pada berlomba menampilkan akting terburuk. Dari Evan Sanders yang sibuk ajeb-ajeb sampe Jordi Onsu yang gagal menjadi highlite komedi sebagai hiburan. And then, nggak ada cerita film ini bikin gue nangis darah. Yang ada malah bikin gue sibuk ketawa sendiri dari awal film di mulai hingga kredit film muncul saking gak tahan melihat ulah busuk Nayato yang sudah terbaca.

Adegan paling lucu terjadi di ending film. Gimana bisa gitu Angel yang tau Martin, orang yang dia cintai di  meninggal pangkuannya, malah sibuk baca puisi? Bukan inalilahi atau sekalian nyanyi "apalah artinya kata cinta? yang kau ucap semua hanya mimpi. apalah artinya cincin ini? yang kau bilang pengikat janji suciku...."*

Please kalo kayak gini prosesnya jangan cegah gue untuk gantung diri. Faham ya? (smile)


* lirik lagu "Apalah Artinya" oleh Donita

Sunday, January 20, 2013

Pelukan Janda Hantu Gerondong [2011] - Film Indonesia


gue menulis postingan ini dengan perasaan campur aduk. pertama, menyesal karena menjilat ludah sendiri. dimana gue pernah bilang kalo gak bakalan nonton film terbaru produksi biang sampah perfilman Indonesia ini demi nenek gue yang udah tua kinclong lagi mukanya. Kedua, antara mau sedih ato bangga, karena untuk pertama kalinya dalam hidup, gue nonton film bang dheraaj di bioskop pada hari pertama penayangan serentak di jaringan 21. ketiga, rugi membuang duit sepuluh ribu perak cuma demi mantengin body cewek-cewek kurus kering, gak seksi dan kelebihan bobot yang dengan pedenya unjuk diri. sumpah, ngaca dong. hahaha... ups, sori sengaja nyindir. kenyataan emang pahit, gurlz.

1. pelukan janda hantu gerondong bercerita tentang...... mmm,tentang apa ya? udah ah, gak penting. secara yang jadi jualan film ini bukan ceritanya, kali. melainkan adegan buka-bukaan para tokoh cewek yang gak bohay. serius deh, bodi aida saskia tuh udah bergelambir kek emak-emak. blom lagi bodi indah kalalo yang kurus kering dan angel lelga yang, gitu deh. mending liat bokep. udah pemainnya oke-oke. aksinya to the point lagi. bukan adegan mesum niat gak niat kayak gini.

2. gue mau muntah melihat penampakan hantu disini yang over narsis dan sangat gak penting yang parahnya bikin jantungan karena kaget. bukan, bukan karena serem atau kemunculan yang seenak udel. tapi efek suara yang bikin shock dan memekakan telinga. beruntung keluar bioskop kuping gue gak budek. kalo sampe iya, gue bakalan tuntut kkd ke meja hijau.

3. make up hantunya bikin gue mencret. gue pikir lebih artistik di posternya dari pada make up dalam film yang norak jaya. meskipun sama-sama kayak tai sih. beruntung mata gue gak mengalami kebutaan. coba kalo iya, gue bakalan tuntut kkd untuk kedua kalinya.

4. akting pemain kesayangan om dheraaj; andreano philip dan angel lelga sangat flat. belom lagi pemain lain yang cuma keliatan niat kalo syuting adegan ranjang dan pamer punggung setelah buka BH. yang gue sayangin adalah kehadiran wulan guritno disini. gue yakin dia cuma pengen eksis aja. mumpung ada yang nawarin film jadi asal di ambil gitu. malesin banget deh.

5. skenarionya nyampah dengan dialog tidak bermutu dan ribet. itu terjadi ketika scene dr.lucas menasehati robby. pilihan kata yang di pake tuh berbelit, absurd dan gak nyambung. bikin gue pengen lempar ember berisi muntahan gue ke muka scriptwriter-nya. yang maunya sok pinter tapi gak becus bikin kata-kata. balik aja ke TK sono.

6. soal sutradara gak ada masalah dalam soal nge-shoot angle-angle. cuman banyak banget blopers yang terjadi. contoh nyata ketika scene pembantaian maksa bin tolol a la ruma dara. posisi mayat-mayat suka seenaknya berubah. dari yang awal disudut tembok tiba-tiba ada di pinggir. dari yang mati deket meja, ketika scene berganti mendadak jauh dari meja. gimana cerita mayat jalan sendiri?

7. banyak adegan gak penting yang di masukin dan harusnya gue maklum. ini film kkd kan? gak perlu gue sewot dan diperdebatkan lagi. kalo gak kayak gini bukan kkd namanya. iya nggak?

8. judul gak berhubungan sama isi cerita. setannya juga, ngapain gitu jadi nenek-nenek gak jelas. contoh konkritnya kek gini, masak iya ada suster mati diperkosa eh, setanya jadi macam hantu jeruk purut? kayaknya gak usah di debatin lagi deh. bikin capek. samain aja seperti point ke 7. udah, beres.

9. selain poster yang jiplak, hal paling anjing disini adalah ketika gue mengetahui kalo film ini memfoto kopi plot dan jalan cerita thriller bollywood berjudul 13B yang dibintangi madhavan. liat aja poster di bawah ini pasti sudah tergambar jelas. anjing! anjing! anjing!


10. ending film ini sangat annoying. kenapa tiba-tiba muncul sosok hantu kek di film-film jepang dengan rambut panjang kemana-mana dan nemplok di atap kayak cicak. maksud apaan coba? oh, lupakan...

11. pengen banget gue datang ke istana presiden lalu teriak "pak SBY buang bangsat ini ke negaranya. maksud gue kkd bukan si gayus! (lho?)"

bagi elo yang pengin buang duit dan milih nonton fim kancut ini daripada bokep, boleh lah, terserah lo. tapi gue gak mau nanggung efek samping yang bakalan lo derita selain onani di kamar mandi. wassalam.

rating -0/10

http://www.smileycodes.info

Saturday, January 19, 2013

Laskar Pemimpi [2010] - Film Indonesia


sebenarnya ada alasan kenapa gue melewatkan film indonesia ketika tayang di bioskop. pertama karena nggak sempet alias sibuk atau memang menyibukan diri. kedua karena filmnya nggak layak konsumsi, jadi daripada buang duit mending lihat nanti pas udah muncul versi DVD dan VCD originalnya--atau malah kadang dengan senang hati melewatkan. terakhir, karena emang sengaja nunggu versi home videonya keluar karena lagi gak ada mood buat nonton. dan sebelum menonton, film arahan monty tiwa ini masuk daftar ketiga.

dilihat dari nama sutradara, oh, bolehlah. dari jajaran pemain seperti project pop, shanty, gading marten, rifnu wikana, masayu anastasia, marcell dan dwi sasono, kayaknya seru. dari genre yang mengambil action komedi, film ini sepertinya bakalan berbeda. tapi entah kenapa gue masih nggak tertarik buat nonton waktu itu. padahal daripada boring dirumah menahan lapar karena lagi puasa, bukankah lebih enak kalo dibuat nonton film yang mana versi trailernya di tivi seperti sangat menjanjikan sesuatu yang bisa membuat penonton tertawa ngakak. suatu pertanda kah? jawabannya baru gue temuin ketika selesai menonton filmnya kemaren di you tube. dan gue sangat berterimakasih sama mood gue karena telah berjasa menyelamatkan gue dari segala isi ketololan yang memenuhi laskar pemimpi.

oke, pada bagian opening title dimana terlihat gambar-gambar hijau persawahan dengan backsound indonesia pusaka, film ini terlihat seperti layak konsumsi. tapi ketika menit kemudian berubah jadi adegan musikal yang--yah, film bollywood aja gak gini-gini amat, mood gue langsung drop ke dasar jurang. dari situ film ini jadi memuakan dan bikin gue pengen muntah sekaligus boker dalam waktu bersamaan!

gue gak tahu apa alasan dibuatnya film ini. dari segi menghibur jelas gagal pada menit awal. apakah hanya karena mengangkat tema perjuangan indonesia jaman dahulu kala maka harus diboyong ke layar lebar? rasanya via tivi saja sudah cukup. sekali tonton, lupakan.

gue bukannya nggak menghargai niat baik film ini yang ingin membakar semangat nasionalisme para generasi muda sekarang yang mulai pudar. tapi boro-boro, selain dari lagu nasional yang di aransemen ulang, nggak ada roh nasionalis yang bisa gue petik.

gue gak tahu mesti meyalahkan siapa. pemilik ide cerita dimana dia bisa mencetuskan ide membuat film goblok kayak gini atau scriptwriternya yang miskin ide. atau mungkin keduanya. coba kalo nggak ada mereka, mungkin film model beginian nggak akan pernah ada. udah jalan cerita absurd dengan dialog-dialog jablay serta komedi yang nggak ada lucu-lucunya sama sekali.

dari segi pemain semuanya cukup baik ketika membintangi film lain seperti yang udah gue sebutin diatas tadi. apalagi project pop. siapa sih yang nggak tahu mereka? gokilnya udah famaous kemana-mana. tapi nggak tau kenapa yang terlihat disini mereka malah nyampah. akting maksa, nggak lucu dan bikin eneg. semua personil project pop kayak terpaksa gitu gue ngelihatnya. sama sekali nggak ada gereget. bahkan saat diharuskan adegan itu dapat membuat orang yang nonton tertawa, gue malah diem aja. nggak tahu mesti ngetawain apa sambil ngebatin "apanya sih yang lucu? adegan slapstik nabrak pohon? adegan nyanyi-nyanyi gak jelas? apa? APA?!?!"

sumpah, gue gak tahu mau ngomong apalagi. semua yang ada disini tuh nggak niat dan too much. lihat aja efek tembak-tembakan yang animasi. setting jaman dulu yang nggak niat dan masih kerasa jaman sekarang. atau judul yang merupakan gabungan dari dua bagian novel andera hirata. parah, parah banget. film komedi terburuk yang pernah gue tonton

kalau boleh milih dan kembali ke awal, harusnya laskar pemimpi masuk dalam poin kedua. dimana gue nggak harus menonton film ini. atau lebih baik melewatkan dengan senyum bahagia. sorry to say...

rating 0/10

http://www.smileycodes.info

Ungu Violet [2005] - Film Indonesia


dari luar, film arahan rako prijanto ini terlihat sangat meyakinkan dengan membawa nama besar dian sastrowardoyo dan judul yang aneh namun terdengar ear catching. tapi kalau diteliti lebih dalam lagi, film ini ternyata mempunyai borok. hingga akhirnya bobrok secara keseluruhan.

1. poin pertama menyorot soal sutradara. nggak ada yang salah sama debut rako di layar lebar setelah sebelumnya bermain di film tragedi, eliana eliana dan arisan! dia udah mendirect dengan cukup maksimal. cara dia nge-shoot angle-angle tuh lumayan nge-art, dinamis dan enak dilihat. kekurangannya cuman satu, gagal membuat pemain-pemain di film ini menyatu sama cerita.

2. dian sastro berperan sebagai kalin, cewek lugu penjaga tiket busway yang akhirnya sukses menjadi model papan atas karena pertemuan tak sengajanya dengan lando yang diperankan oleh rizky hanggono. dian sanggup berperan sebagai kalin cuman dari kulit luarnya doang seperti dalam hal berkostum yang memperlihatkan dia cewek lugu lalu berubah jadi seorang yang mempunyai kehidupan glamor. tapi cara ngomong, ekspresi dan kelakuanya tuh masih terlihat seperti cinta di film ada apa dengan cinta? padahal jelas-jelas kalin dan cinta adalah sosok yang berbeda.

pemain lain pun juga begitu. ada rizky hanggono yang saat itu masih pemain newbie alias debutan. dia nggak jelek kok. tapi kurang ekspresif, bahkan saat harus tertawa pun! akting dia tuh sedatar mukanya (ups, sori, sengaja). trus ada gary iskak yang karaternya hampir ditiap film gitu-gitu mulu cuman ganti nama doang. ada pula rima melati yang sukses ganjen banget jadi nenek-nenek. nggak salah kalo dia menang award sebagai best supporting actress di ajang festival film asia pasifik. sedang dian sastro mendapat award sebagai aktris menjanjikan.

ada satu karakter yang menarik disini. adalah tokoh rara yang diperankan sama katinka. dia emang muncul dalam dua scene buat bikin konflik awal dan cerita berjalan. tapi akting nangisnya oke banget. mencuri perhatian.

3. judul filmnya nggak ada hubungan sama sekali dengan cerita. mungkin awalnya emang nggak mempunyai judul karena plotnya menjiplak mentah-mentah music video (mv) penyanyi korea. ungu violet hanya diartikan dari campuran warna kesukaan kalin dan lando. kalin suka warna merah dan lando suka warna biru. jadi jangan heran kalo disepanjang film soal kostum cuman didominasi oleh dua warna itu. dan voila, jadilah judul ungu violet. kasus judul aneh kayak gini juga terjadi di film arahan hanny r. saputra; love is cinta.

4. menyinggung poin ketiga, gue mau ngasih tau hal terparah kenapa film ini harusnya menjadi film sampah, film terburuk dian sastro atau film yang mestinya nggak perlu ada karena malu-maluin banget. gimana nggak anjing kalo dua jam disini adalah pengembangan sebuah mv dari penyanyi korea bernama kiss berjudul because i'm a girl. coba deh, bagi lo yang udah nonton, perhatiin mv dibawah ini sampai habis. dan berspeechless lah. sumpah, parah banget. versi indonesia hanya dirubah beberapa detail dengan penambahan karakter baru. namanya juga bangke, jadi lama-lama kecium juga. yang bikin film juga goblok, mau nyontek kok dari mv terkenal.


5. hal diatas diperparah dengan skenario bikinan om jujur prananto yang picisan dan dangkal. dimana cerita-cerita kek gini bisa terlihat pasaran dengan dialog gombal tentang cinta yang hampir udah pernah dimunculkan dalam novel teenlit-chicklit-metropop, sinetron, ftv dan film layar lebar lain.

6. selain dangkal, banyak juga adegan yang terpaksa dibuat sama om jujur biar seru. tapi buat gue, hello, maksa banget sih? pertama adegan ketika rumah nenek kalin kebocoran. terlihat nenek kalin bingung nyari alat untuk menadahi tetesan air hujan sampe nekat memindahkan air dalam bak ke tempat lain padahal udah tau kalo berat tapi tetep aja keukeuh hingga akhirnya jatuh dan pingsan. apa gunanya gitu ada kalin. kan bisa aja disuruh bantuin angkat gitu. dan scene setelahnya pun terlihat dimana kalin sudah menemukan ember. bahkan mengepel lantai!

pemaksaan kedua terjadi sebelum kalin tertabrak hingga akhirnya menjadi buta karena matanya terkena pecahan gelas yang dia bawa. nah, gelas ini yang jadi masalah. kenapa juga kalin lari-lari ngejar lando sambil bawa gelas. gue kira sih buat lempar lando. tapi ternyata cuman jadi properti supaya akhirnya kalin jadi buta. dan itu belum ada apa-apanya ketika melihat posisi jatuh kalin setelah tertabrak. hei, gimana cara kalo ada orang tertabrak dari depan lalu jatuhnya disamping persis dalam posisi lurus sejajar dengan mobil? seenggaknya kalo emang mau dibikin supaya rada art, dimana di film terlihat efek slow motion, harusnya dipikirin logika-logika cara jatuh setelah ditabrak yang baik dan benar.

at least, sebagai melodrama, ungu violet bisa jadi film terbaik kalo saja bukan dari hasil ngejiplak karya orang lain. dari mv lagi. minimal kalo emang punya niatan kek gitu, dicantumin credit kalo film ini dikembangkan dari mv nya kiss. tai banget lah!

NB: mv model kek gini ternyata juga dijiplak sama video klip lagunya adi 'naff' berjudul cinta memilihmu dengan perubahan detail tapi tetap menceritakan cewek yang buta karena kecelakaan lalu cowok yang mencintai dia menyumbangkan korena mata biar si cewek bisa melihat. sayang, kisah kek gini, cuman bisa terjadi didunia fiksi.

rating: 0.5/10

http://www.smileycodes.info

Thursday, January 17, 2013

Mika [2013] - Film Indonesia



"Aku percaya karena Mika bilang gitu.." - Indi

Seperti prediksi, demam film yang diadaptasi dari buku dengan penjualan terlaris akan menghiasi roda perfilman nasional tahun ini. Sebagai pembuka, muncullah MIKA yang diangkat dari autobiografi seorang gadis bernama Indi lewat bukunya Waktu Aku Sama Mika dan Karena Cinta Itu Sempurna.

Drama besutan Lasja Fauzia Susatyo ini berkisah tentang gadis penderita scoliosis (kelengkungan tulang belakang) bernama Indi. Masa transisi dari SMP ke SMA yang dianggap bakal suram berubah penuh warna saat gadis tersebut bertemu dengan Mika yang disebutnya sebagai malaikat karena melihatnya begitu spesial.

Kedekatan di antara keduanya pun berubah menjadi sesuatu bernama cinta. Namun kisah Indi dan Mika tidaklah semudah dongeng karena malaikatnya tersebut merupakan seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Well, MIKA menyajikan sebuah hal klise, drama dengan momok kematian sebagai benang merah. Meski premisnya sendiri cukup unik, apa yang ditawarkan Indra Herlambang dan Mira Santika dalam balutan naskah tidaklah benar-benar baru, cenderung monoton dan membosankan, malah.

Alhasil, MIKA menjadi film yang hanya coba mengulangi lagi hal repetitif dari drama-drama yang sudah rilis sebelumnya tanpa menawarkan sesuatu yang bisa dibilang lebih greget.

Kekurangan lain juga tampak dari pemaparan penderita HIV/AIDS itu sendiri. Beberapa bagian film ini terlihat bermain aman. Mending sih dari pada drama-drama pengumbar air mata yang google itu (ups!). Tapi tetap saja penyampaian salah kaprah.

Meski begitu Lasja mampu menampilkan filmnya ini dengan runut. Terlebih sinematografi Padri Nadeak yang memang selalu melenakan mata.

Sebagai main cast, duet Velove Vexia dan Vino G Bastian tak terlalu mengecewakan meski juga tidaklah spesial lihat saja dari model rambut Vino yang oh my... Setidaknya lewat film ini kita bisa belajar bahwa yang dijauhi dari seorang ODHA bukan penderita, melainkan virus yang mematikan tersebut.

5 dari 10
untuk Velove Vexia dan sinematografinya

Monday, January 14, 2013

what the...? - Film Indonesia


sebenarnya banyak sineas lokal berbakat datang dengan ide-ide gila untuk membuat sebuah film yang layak konsumsi. Tapi nggak banyak produser-produser yang tertarik mendanai. Dan akhirnya, cerita mereka hanya stuck di jalan. Karena kebanyakan produser jaman sekarang cuman butuhin modal cerita basi dan adegan buka-bukaan hingga pundi pundi duit mengalir dengan lancar kek air seni tanpa memikirkan perasaan penonton dan moralitas anak bangsa. Entah sutradara, pemain atau ceritanya sangat nyampah dimana-mana. Yang penting jadi film, jadi poster yang eye catching, jadi judul yang mengundang serta viral marketing yang mengada-ada. Well, nggak mau munafik juga sih. Kalo udah masalah ginian, duit emang masih jadi masalah yang dominan.

Sebenarnya banyak sineas lokal berbakat datang dengan ide-ide gila untuk membuat sebuah film yang layak konsumsi. Sekalinya ada produser yang mendanai, uda syuting uda siap-siap edar di layer lebar, eh, malah mengalami proses filterisasi, mana yang proft mana yang tidak. Hingga akhirnya film itu hanya diputar pada event-event tertentu. Dan diedarkan di luar negeri. Yang mirisnya mendapat banyak respon postif.

Nggak tau mesti sedih atau gimana, kayaknya pemerintah kurang mensupport hal-hal kayak gini. Mereka cuman support film-film yang emang udah dianggap. Padahal filmnya sendiri sebenarnya nggak banget. Contoh nyata kek ayat-ayat cinta. Sehebat apa sih film itu? Sampe presiden aja bela-belain nonton. Sangat membuang waktu padahal disana-sini banyak konflik, bencana, demo demo minta keadilan, eh malah ditinggal liat film nggak penting bersama pejabat-pejabat lain.

Saking hopelessnya, sineas muda yang punya mimpi besar pada kabur. Mereka terjebak pola pikir UUD alias ujung-ujungnya duit. Lihat aja, banyak banget film-film Indonesia rilis tanpa nafas yang berarti. Hanya beredar dengan kontroversi yang harusnya tak perlu seheboh itu. Ngapain sih dibikin heboh toh di dunia maya banyak bokep-bokep tanpa filterisasi yang tersebar dengan akses begitu mudah. Cuman 3000 per jam!



Kembali pada poin kedua, bosan dengan film-film sampah semi mainstream kelas tai yang terornya makin gila-gilaan dijaringan 21, terkadang muncul film-film dari generasi terbaru yang nggak bisa tayang dengan banyak alasan. Satu contoh seperti babi buta ingin terbang. Herannya udah tau diginiin, mereka, yang bikin film, cuma diam berpangku tangan. gak ada yang berani nge share atau gimana gitu. buat kemajuan bangsa sendiri kok jiper gitu. Meski nggak ayal kalo di edarin pasti bakalan terjadi pro dan kontra. Tapi masih mending film ini mempunyai isi daripada film keluaran maxima, starvision, k2k, mitra pictures dan bic production yang, yah, you know what I mean, guys. What the fuck!

Berita terbaru datang dari film sex art arahan duet djenar maesa ayu (mereka bilang saya monyet!) dan harry dagoe (pachinko) yang mana mereka juga membintanginya sendiri, berjudul saia dan udah dikonfirmasi sama djenar via retweet di twitter saat gue asyik berbalas mention dengan rio johan pemilik kinema movie review, kalo film ini nggak bakal tayang di Indonesia dengan alasan klise, takut dicaci maki. Rasanya film ini akan menjadi bagian seperti film jermal, babi buta ingin terbang dan may. no commet ah…

curhatan operator warnet yang begitu [terpaksa] mencintai film indonesia

Gending Sriwijaya [2013] - Film Indonesia


Bersetting pada abad ke-16 setelah runtuhnya Sriwijaya, kedatuan Bukit Jurai yang dipimpin Dapunta Hyang Jaya Nasa (Slamet Rahardjo) mencari penerus tahta. Karena tak suka dengan perangai anak pertama, Awang Kencana (Agus Kuncoro), Dapunta menyerahkan mahkota kepada Purnama Kelana (Sahrul Gunawan), putra kedua.

Sebelum mahkota resmi diserahkan, Dapunta meninggal secara misterius. Purnama yang menjadi tertuduh langsung saja dijebloskan dalam penjara. Merasa tak bersalah, Purnama memilih kabur. Saat pelarian itulah dirinya bertemu dengan Malini (Julia Perez) putri dari Ki Goblek (Mathias Muchus), pemimpin kawanan perampok. Dari pertemuan tersebut Purnama Kelana menyadari bila dirinya harus segera bertindak menyelamatkan kedatuan sebelum terlambat.

GENDING SRIWIJAYA adalah kolaborasi kedua Hanung Bramantyo dengan Pemprov Sumatra Selatan setelah PENGEJAR ANGIN. Menggunakan dana APBD, film berdurasi 140 menit ini ingin memperkenalkan kebudayaan Sumsel kepada generasi terkini.

Sebelum melangkah lebih lanjut perlu ditekankan bahwa GENDING SRIWIJAYA adalah kisah fiksi yang menggunakan spirit Sriwijaya. Jadi tak perlu mendebatkan unsur historis dan sebagainya.

Mungkin terkesan bermain aman mengingat proses detail bakal memakan waktu cukup lama. Tapi sebagai fiksi, film ini cukup mampu memberi warna tersendiri. Terlebih pengalaman sinematik yang jarang disajikan oleh filmmaker kita setelah mati suri.

Setting dan properti cukup meyakinkan meski beberapa pengambilan gambar sengaja tak disajikan secara lanskap mengingat dana untuk pembangunan setting. Namun salut karena Hanung tergolong cukup lihai mengakali. Walau untuk pemilihan kostum jaman dulu sedikit ada ketidakselarasan meski cukup diperhatikan detailnya.

Deretan pemain dari yang senior hingga junior berkumpul jadi satu. Sebut saja Slamet Rahardjo, Jajang C Noer, Agus Kuncoro, Julia Perez hingga Osa Aji Santoso yang sebelumnya kita lihat dalam TANAH SURGA ...KATANYA. Semua mampu tampil berimbang.

Sayangnya untuk menyebut GENDING SRIWIJAYA sebagai film kolosal masih terasa sulit. Pertama karena adegan yang seharusnya bisa dibilang kolosal malah dibuat dengan teknik animasi mati. Pun dengan spesial efek serta ledakan yang tidak se-'wah' itu di dalam durasinya yang cukup lama.

Namun adegan action bisa dibilang tertata dengan apik. Apalagi saat Julia Perez yang diplot untuk bertarung benar-benar menunjukkan talenta setelah keterlibatannya dalam berbagai judul film seksi.

Di balik ketidakakuratan dan beberapa hal minor yang mengganggu, GENDING SRIWIJAYA cukup layak diberi apresiasi tersendiri. Berharap setelah ini banyak bermunculan film serupa dengan eksekusi yang tak kalah.

Rating: 5 dari 10
untuk akting, setting, kostum dan dada Julia Perez

Sunday, January 13, 2013

Mother Keder [2012] - Film Indonesia


Belakangan sulit menemukan sajian komedi buatan sineas lokal yang beneran nendang sampe bikin ketawa ngakak dua hari dua malam. Kalopun ada dengan berbagai tambahan varian seperti satir, romantis atau horor, nggak pernah sukses memancing tawa penonton. Dikarenakan rata-rata dari film tersebut hanya mengandalkan adegan slapstik atau ketololan nggak bermutu yang terkadang menghina intelijensia penonton.

Mother Keder: Emakku Ajaib Bener adalah sebuah film yang diadaptasi dari buku bergenre personal literature karangan Viyanthi Silvana, mantan Putri Indonesia Fotogenik tahun 2001. Gue udah baca buku tersebut. Lumayan lucu deh untuk ukuran buku berisi curhat random. Gaya tulisan Vivi yang ngepop mampu menerjemahkan segala tingkah polah keajaiban sang ibu dengan baik. Nggak heran jika kemudian ada seorang yang tertarik untuk mengangkatnya dalam format film.

Masalahnya disini, bahasa visual berbeda dengan bahasa buku. Kalo bukunya lucu, belum tentu filmnya bernasib serupa. Coba ingat kembali Kambing Jantan. Buku curhat Raditya Dika tersebut lucu ketika dibaca. Tapi begitu diadaptasi jadi film malah berakhir garing dan flat banget. Makanya gue sedikit pesimis kalo apa yang ditulis oleh Vivi dalam bukunya ini tak mampu diterjemahkan dengan baik. Dan sayangnya, kenyataan itu benar-benar terjadi.

Kisah Ibu Kosasih sebagai emak ajaib yang diperankan dengan sangat total oleh Ira Maya Sopha telah gagal menjadi sajian komedi yang ‘komedi’ sejak awal dimulai. Terlihat sangat tidak konsisten jika lima menit awal ada scene monolog Vivi (Qory Sandioriva) namun tidak digunakan lagi sampai film berakhir. Sehingga fokus pengaturan porsi siapa yang harus jadi main character setelah durasi berjalan 15 menit terlihat nggak jelas. Entah itu kisah Vivi, Dinda (Jill Gladys) atau Ibu Kosasih. Karena saking tumplek-blek, gue bingung mencerna dan harus bersimpati pada siapa.

Gue akui, masih ada usaha dari Reka Wijaya selaku penulis skenario, untuk mengatur kerandoman dalam buku menjadi satu paduan yang utuh. Mother Keder masih mempunyai satu benang lurus sampai film berakhir. Tapi proses penyajian Eko Nobel untuk debutnya kali ini membuat Mother Keder terlihat seperti potongan-potongan sketsa yang disatukan secara paksa. Sehingga penonton akan sulit untuk ikut larut dalam kisah yang sebenarnya mempunyai niat mulia untuk menginspirasi banyak orang.

Tanggung, ya Mother Keder adalah film yang serba tanggung. Dari awal film ini seperti kebingungan untuk diarahkan jadi drama komedi, pure komedi atau pure drama. Kalo komedi kok kurang lucu. Kalo drama kok nggak niat. Padahal tujuan nonton karena pengen hepi-hepi di dalam bioskop, tapi kok nggak hepi sama sekali. Nah....!

Selain Ira Maya Sopha, deretan cast juga bermain serba tanggung. Paling parah adalah penampilan Qory Sandioriva. Dia sama sekali gak mempunyai bakat akting. Gue nggak tahu sepanjang durasi dia akting atau lagi ngapain. Yang jelas gue nggak dapet feel seorang Vivi dalam dirinya.

And then, dengan sangat berat hati gue memasukan Mother Keder dalam list film adaptasi dari buku yang gagal. Hematnya sih dikembalikan ke tujuan awal saja; menjadikan film ini sebagai sitcom berdurasi 30 menit yang tayang tiap hari pas jam-jam prime time di televisi. Toh untuk disebut sebagai film, tampilan Mother Keder nggak jauh beda dengan FTV tanpa commercial break.

Oh Baby [2008] - Film Indonesia


hatching, sebelum mulai membaca review, ada baiknya kalian dengarkan lagu oh baby dari cinta laura. lalu kita nyanyikan sama-sama dengan ketukan 3/4 sambil memperhatikan liriknya. karena tanpa menonton filmnya pun, kita bisa tau gimana efek samping dari film ini. oke, musik, mulai...

jreeeng...

" kau... bikin pusing tujuh keliling, buat aku mabuk kepayang..."
(ini efek pertama, efek kedua kita lihat selesai bacotan gue dibawah ini!)

1. oke, jarang sekali muncul film bertema dance di scene perfilman lokal. sekalinya muncul, malah film dance nggak jelas yang awalnya berjudul olala baby ini.

2. judul dan poster film se-chessy isinya. dengan plot yang diharapkan twist namun sayang, tertebak diawal. diperburuk dengan skenario yang dangkal, komedi slapstik bikin enek, cinta-cintaan nanggung dan dance yang... eh, si cinta laura tuh nge-dance ato lagi gatel gara-gara digigit semut sih?

3. biasanya cassandra masardi hanya kebagian peran jadi scriptwriter, tapi kali ini dia mencoba memulai debut menjadi sutradara dari skenario olahan h. encep masduki.

4. tukang art and properti-nya norak gila. masa iya semua serba kalerpul.

5. gue yakin koreo dance di film oh baby ini bikinnya ngasal. lihat aja scene dance diawal film pas audisi rame-rame. ketika karakter baby datang mengenakan topeng phantom lalu menari sambil mengetuk-ngetukan sepatu di lantai dengan sangat nggak jelas. dan gue shock, ketika penonton terpukau dengan tarian monyet nemu pisang di ethiopia a la cinta laura. hingga membuat seorang panitia kaya bernama wizard terpesona lalu  berkata kalo baby boleh masuk grand final dengan sebuah syarat. ih, coba ah gue juga ikutan nari kayak gitu di depan pejabat dengan harapan dikasi segepok uang hasil korupsi, pasti deh udah kena tendang. hahaha... dan semua itu belum lengkap tanpa acara gue pingsan ketika melihat scene baby latihan di gudang sekolah and of course, acara final dance. sumpah, nggak awesome sama sekali kek seperti kita nonton trilogi dahsyat step up selain tarian norak baby dan zarro.

6. akting semua pemain pas-pasan. terlebih lagi cinta laura. dia disini cuman jual tampang dan aksen bicaranya yang sok bule. pengyen dyeh sekhali-khali guweh pentyok-pentyokin jidat cintha laurar ke tembok biarr kalo ngomong biasya ajha. guweh yang keturnan bule aja gak gityu-gityu amat. *ngomong a la bule kampung*. hehe, pis, cin...

7. ada karakter ketua geng cewek yang, plis deh, cantik dari mana, muka culun gitu mau saingan sama neng cinta. terjadi misscast nih kayaknya. iuww..

8. selain banyak dihubung-hubungkan dengan step up dan high school musical, film ini kentara banget mewesternisasi budara indonesia. and then, jadi seperti teenfilck hollywood kelas tiarap.

9. musik musik di film ini sangat tidak berstamina dan energik. nggak ada nyawa sama sekali sebagai pengisi adegan dance. cuman lagu oh baby yang jadi single penjual terlihat sedikit berbobot. meski koreo untuk lagu ini sangat over jablay.

10. overall, sebuah film khusus anak SD yang doyan warna-warni, cerita ringan seringan kapas dengan aktor dan aktris berwajah enak dilihat tapi bikin enek aktingnya dan pantas tayang sekali aja ditivi. mudah terlupakan. *kecuali kalo logat ngomong cinta manjur meracuni otak para penonton*

and now, back to musik..

" ai don wana lus yu
yes ai wana hold yu
ai don wana mek yu
mek yu sed en mek yu kraii.."

akhir kata, sebagai efek kedua, gue nangis darah liat film ini

rating 0/10

http://www.smileycodes.info

Saturday, January 12, 2013

Titik Hitam [2002] - Film Indonesia


janji adalah hutang.

mungkin seperti itulah gagasan awal yang terbersit di otak sentot sahid sebagai pemilik ide asli dan kemudian di serahkan pada jujur prananto untuk mentransformasikannya dalam bentuk skenario drama berbumbu suspense. dan penjabarannya pun berubah jadi seperti ini:

heru (winky wiryawan) dan retno (aurora yahya) adalah saudara sepupu yang memiliki keistimewaan. heru bisa melihat sosok mahluk halus, sedang retno cuma bisa merasakan keberadaannya. karena merasa senasib sepenanggungan, mereka akrab sejak jaman masih pake merah putih hingga menginjak bangku perkuliahan. hingga tanpa retno sadari, ternyata dia mencintai heru. meski heru sendiri merasa nggak mungkin balas mencintai karena dia dan retno masih mempunyai hubungan darah.

di bangku kuliah, heru menjalin hubungan asmara dengan rianti (endhita) tanpa sepengatahuan retno. hingga kemudian retno tahu dan tak bisa menerima kenyataan itu sampai-sampai mengalami kecelakaan karena depresi.

semenjak itu, hubungan heru dan rianti menjadi tak tenang karena diam-diam heru pernah membuat perjanjian khusus dengan retno: siapa yang lebih dulu meninggal, akan menemui yang masih hidup dan menceritakan perjalanannya setelah berada di alam kematian.

menarik? 

actually titik hitam bukan film dengan cerita kacangan yang sekarang ini bertebaran dengan efek tambalan dimana-mana. poor them, setelah melihat hasil keseluruhan, selain durasi yang serasa bagai setahun lamanya alias bertele-tele, film ini diakhiri dengan ritme yang begitu terburu. mungkin sang sutradara en produser udah merasa terlalu kepanjangan. jadi buru-buru diselsein. masalahnya, mereka lupa mengefisiensi apa yang bertele-tele diawal seperti sub plot sub plot nggak penting. membuat titik hitam terasa sangat membosankan.

dari segi penyutdaraan, debut sentot sahid cukup pintar memanjakan mata gue. meski terlalu mengeksplor tempat kerjanya--IKJ. secara dia dosen disana.

dari segi akting semua pemain berakting lumayan. tapi kalo ngomongin spesial efek. haha... gue gak tau kenapa penampakan hantu-hantunya memaksa pake efek animasi 3D  karena terlihat annoying. nggak serem, yang ada malah pengen muntah. bukankah lebih baik meniru kebiasaan nayato or kk dheeraj yang memakai setan asli manusia dengan beberapa modifikasi dempulan diwajah. entah pake kapas yang dikasi cat merah atau apalah namanya (sepertinya gue lupa kalo nayato atau kk dheeraj belum seeksis sekarang, bahkan asumsi gue, si biang tai alias KKD masih di negaranya). belum lagi, adegan terbang-terbangnya. oke sih sebenarnya, malah jarang liat film terbang-terbang kek gitu (dengan catatan ketika tahun 2002; red) tapi masih kurang halus efeknya. yah, gue bisa maklumi lah kalo masalah ini. mungkin karena dana juga kali ya.

sebagai film yang rilis ketika perfilman indonesia belum seramai sekarang, titik hitam telah gagal menyihir penonton untuk berduyun-duyun ke bioskop. seingat gue filmnya cuman bertahan seminggu lebih dikota gue. dan di jakarta cuman beredar di beberapa bisokop. mungkin dari segi poster yang nggak banget dan menjual nama winky wiryawan doang yang saat itu tengah bersinar gara-gara film jelangkung.

coba aja kalo skenarionya lebih pas dan nggak ngejablay kemana-mana memperpanjang durasi, mungkin film ini bakalan berbeda. apalagi pesan khusus yang ingin disampein sentot sahid bisa saja lebih mudah di cerna. karena judul titik hitam sebenarnya mempunyai maksud tersendiri.

ah, terlalu banyak yang ingin diceritakan dari arti sebuah titik.

2.5/10
http://www.smileycodes.info

Xià Àimĕi [2012] - Film Indonesia


"Udah, sogok aja kayak film-film indonesia!" - AJ Park

Coba tebak, poster apakah yang gue pasang di atas? Bukan, itu bukan versi live action dari anime Jepang terpopuler: Sailor Moon. Bukan pula drama mandarin yang hanya tayang di Blitz Megaplex. Apalagi iklan aplikasi terbaru dari Yahoo! Indonesia untuk pangsa pasar pria dewasa. Salah semua guys! Gambar tersebut adalah poster film Xià Àimĕi. Drama lokal yang mencoba untuk berbeda. Eh, berbeda? Yakin beda?

Bercerita tentang Xià Àimĕi (Franda), gadis lugu asal Yangshuo Guangxi, sebuah desa kecil di daratan China. Àimèi bersama gadis lain diboyong ke Indonesia oleh Jack (Ferry Salim), pria necis pemilik Lé Mansion, sebuah club mewah di Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Àimĕi yang diubah nama menjadi Xi Xi baru sadar kalau dia adalah korban human trafficking. Terlebih ketika Jack menjadikannya komoditi pemuas nafsu pria kaya, kabur pun menjadi jalan satu-satunya agar merdeka. Untuk kabur, Xi Xi meminta bantuan Lielie (Shareefa Danish) dan Pauline (Jasmine Julia Machate) teman satu kamar di Lé Mansion serta AJ Park (Samuel Rizal) pegawai Discovery Underworld International berdarah Korea. Sanggupkah Xi Xi kembali ke Negara asalnya dengan bantuan mereka?

Well, apa yang di tawarkan oleh produksi terbaru Falcon Pictures ini sebenarnya lumayan menjanjikan. Sayangnya ide besar tersebut gagal disampaikan dengan baik. Skenario hasil rembukan Alyandra, Tohaesa dan Sally Anom terlalu payah untuk kemudian di ekskusi oleh Alyandra yang selain bertindak sebagai penulis naskah juga memegang bagian penyutradaraan, DOP dan tata musik.

Lihat saja, sepanjang 72 menit kita akan melihat betapa pincangnya film ini. Naskah yang buruk semakin hancur lebur dengan gaya penyutradaraan Alyandra yang terkesan dikejar sesuatu. Sehingga ditinjau dari berbagai sisi film ini mempunyai banyak nilai minus. Seperti akting para aktor dan aktris yang so pathetic serta editing yang kasar.

Ngomongin akting, rasanya hanya Shareefa Danish yang sanggup membawakan karatkter dangkal yang diembankan padanya dengan baik. Franda yang baru saja memulai debut layar lebar memang tidak buruk, tapi peforma aktingnya belum mampu meyakinkan banyak orang kalau dia beneran sedang tertindas selain sepanjang film hanya sibuk menundukan kepala. Bagian paling ganggu adalah penampilan Ferry Salim dengan jambul khatulistiwa wannabe dan gaya necisnya yang terlalu berlebihan (bahkan di keseharian pun!). Belum lagi tambahan highlite komedi gagal dan teramat sangat maksa dari Gilang Dirgahari. Membuat gue nggak berhenti mikir untuk segera keluar dari studio saking muaknya.

Berterima kasihlah pada Franda. Karena dia adalah satu-satunya alasan gue (dan cowok-cowok lain) untuk bertahan menyaksikan film ini sampai credit title muncul. Andai saja produksinya tak terlalu buru-buru serta mau meluangkan waktu dalam proses penggodokan naskah, mungkin Xià Àimĕi mampu tampil lebih berisi dan memikat. Tidak seperti sekarang yang rasanya sia-sia saja memasukan berbagai unsur menarik jika digarap hanya setengah-setengah. Pada akhirnya Xià Àimĕi pun telah gagal untuk tampil berbeda. Sebuah debut film yang mengecewakan bagi Alyandra dan Franda.

Lagi Hot